Dulu gue kira wawancara buat freelancer cuma formalitas. Klien butuh orang, gue bisa kerja, ya udah deal. Ternyata setelah lima tahun dan entah berapa puluh kali duduk di depan klien — ada yang lewat video call, ada yang ngajak ketemu langsung di kafe — gue sadar anggapan itu salah besar. Wawancara buat pekerja lepas itu bukan sekadar cek CV, tapi semacam test drive dua arah yang hasilnya nentuin apakah proyek ini bakal jadi mimpi atau mimpi buruk.
Gue pernah nerima satu proyek cuma karena wawancaranya lancar dan kliennya ramah. Tiga minggu kemudian gue nyesel. Ternyata ramah di depan kamera nggak selalu berarti gampang diajak kerja. Nah, dari situ gue mulai ngumpulin catatan. Ada tiga hal yang akhirnya gue sadari dan sekarang selalu gue pegang tiap kali interview klien baru.
Baca juga: Di Dapur Sambil Ngepel, Ibu Rumah Tangga Sering Tanya Ini Soal Kerja
1. Klien yang Baik Sedang Mengevaluasi Cara Kamu Bertanya, Bukan Cuma Jawabanmu
Ini pelajaran yang paling nempel. Dulu gue fokus banget nyiapin jawaban — portofolio apa, pengalaman apa, tools apa yang gue kuasai. Semua gue hafal di luar kepala. Tapi makin lama gue makin sadar, klien yang serius justru memperhatikan gimana gue nanya balik.
Waktu gue ngerjain satu proyek konten buat sebuah brand kecil, kliennya bilang di akhir wawancara, "Gue suka cara kamu nanya soal target audiens dulu sebelum bahas harga." Padahal saat itu gue nanya karena gue beneran bingung, bukan buat gaya-gayaan. Tapi dari situ gue ngerti: pertanyaan yang kamu lempar ke klien nunjukin seberapa dalam kamu mikirin proyeknya.
Jadi sekarang gue selalu nyiapin minimal tiga pertanyaan sebelum wawancara. Bukan pertanyaan basa-basi kayak "deadline-nya kapan", tapi yang bikin klien mikir. Misalnya: bagian mana dari proyek sebelumnya yang bikin kamu kurang puas? Atau, kalau proyek ini sukses, ukurannya apa? Kadang klien kaget ditanya begitu. Tapi yang serius malah seneng.
Freelancer yang cuma bisa jawab itu gampang diganti. Freelancer yang bisa bikin klien mikir ulang soal proyeknya sendiri itu susah dicari.
2. Wawancara Itu Tempat Kamu Ngecek Klien, Bukan Cuma Sebaliknya
Gue dulu ngerasa posisi gue selalu di bawah. Klien yang nanya, gue yang jawab. Klien yang milih, gue yang nunggu dihubungi. Pola pikir ini bikin gue sering abaikan red flag yang sebenarnya udah kelihatan dari awal.
Sekarang gue balik cara pandangnya. Wawancara itu dua arah. Kalau klien telat 20 menit tanpa kabar, itu informasi. Kalau klien nggak bisa jelasin proyeknya dengan jelas dan cuma bilang "pokoknya kayak kompetitor aja", itu juga informasi. Kalau klien nanya harga dulu sebelum nanya apa pun soal proses kerja, ya itu juga sinyal.
Gue nggak bilang semua red flag langsung berarti kabur. Tapi setidaknya kamu punya data buat mutusin, bukan cuma harapan. Ada satu calon klien yang waktu wawancara ngomong terus selama 40 menit dan baru nanya satu pertanyaan ke gue. Gue tetap ambil proyeknya karena bayarannya bagus. Ternyata selama kerja, komunikasinya persis kayak gitu — satu arah. Pelajaran mahal, tapi sekarang gue selalu inget: cara orang berperilaku di wawancara biasanya kebawa sampai proyek selesai.
Pertanyaan yang Sekarang Selalu Gue Lontarkan
- Kalau ada masalah di tengah proyek, biasanya kamu lebih suka dikabarin langsung atau lewat chat dulu?
- Siapa yang ambil keputusan final — kamu sendiri atau ada tim lain?
- Proyek sebelumnya yang berjalan lancar itu karena apa?
Ketiga pertanyaan ini kelihatan sederhana, tapi jawabannya sering ngebongkar banyak hal. Yang nomor dua misalnya, kalau klien bilang "nanti ada bos gue yang approve", artinya kamu bakal negosiasi dua kali. Itu bukan masalah, tapi harus kamu tahu dari awal.
3. Nego Tarif Itu Bagian dari Wawancara, Bukan Tahap Terpisah
Banyak freelancer — termasuk gue dulu — ngerasa nego tarif itu kayak ngemis. Jadi kita tunda, kita tunggu klien nyebut angka dulu, atau kita iyain aja biar cepet kelar. Padahal berdasarkan pengalaman gue, momen wawancara justru waktu paling pas buat bahas angka, karena di situ kamu masih punya daya tawar.
Gue pernah ngalamin wawancara yang jalan mulus banget, klien keliatan puas, dan di akhir dia nanya, "Tarifnya berapa?" Gue jawab dengan angka yang sedikit di bawah standar gue karena panik. Besoknya gue nggak bisa tidur. Akhirnya gue kirim email minta revisi tarif. Klien setuju, tapi gue ngerasa posisi gue jadi agak aneh selama proyek berjalan. Kalau dari awal gue pasang angka yang bener, nggak ada drama begini.
Yang penting diingat: nego bukan berarti nolak. Kamu bisa bilang, "Untuk scope segini, tarif gue di angka X. Kalau budget-nya di bawah itu, kita bisa atur ulang scope-nya." Kalimat ini ngebuka obrolan, bukan nutup pintu. Klien yang waras bakal ngajak diskusi. Klien yang langsung kabur biasanya memang nggak cocok dari awal.
Yang Akhirnya Gue Pegang Sampai Sekarang
Setelah lima tahun, gue nggak lagi ngeliat wawancara sebagai ujian yang harus gue lewatin. Gue liat ini sebagai obrolan awal sebelum kerja sama — dan obrolan awal itu biasanya jujur ngasih gambaran gimana tiga bulan ke depan bakal jalan.
Kalau kamu freelancer yang masih sering deg-degan tiap interview klien, saran gue cuma satu: siapin pertanyaan, bukan cuma jawaban. Karena dari situ kamu belajar bahwa wawancara bukan soal siapa yang lebih butuh, tapi soal nyocokin dua kebutuhan. Kadang cocok, kadang nggak. Dan itu nggak apa-apa.