Gue sering dapat DM dari ibu-ibu rumah tangga yang tiba-tiba kepikiran buat kerja lagi. Kadang sambil nunggu anak tidur, kadang sambil ngepel. Pertanyaannya mirip-mirip. Jadi gue rangkum di sini, sekalian gue jawab sejujurnya.
"Aku udah lama nggak kerja, masih bisa keterima nggak sih?"
Pertanyaan ini paling sering muncul. Dan jawabannya: bisa, tapi jangan berharap jalannya sama kayak dulu waktu kamu masih fresh graduate.
Baca juga: Kesalahan Fatal Saat Wawancara Kerja yang Sering Dianggap Sepele
Gue pernah ngobrol sama seorang HRD di perusahaan distribusi. Katanya, dia justru suka kandidat yang punya jeda karier karena biasanya lebih stabil dan nggak gampang pindah. Tapi dia juga jujur: yang bikin dia ragu bukan jedanya, melainkan kalau kandidatnya nggak bisa jelasin jeda itu dengan tenang.
Jadi kuncinya bukan "masih bisa atau nggak", tapi gimana kamu cerita soal masa jeda itu. Kalau ditanya, jawab aja apa adanya. "Saya fokus ngurus anak tiga tahun terakhir, sekarang anak udah sekolah jadi saya siap kerja lagi." Selesai. Nggak perlu bertele-tele, nggak perlu minta maaf berlebihan.
Jeda karier itu bukan lubang hitam. Itu cuma bagian dari hidup kamu. Yang bikin masalah justru kalau kamu sendiri kelihatan malu sama jeda itu.
"Kalau ditanya gaji terakhir, aku harus jawab berapa?"
Nah ini yang bikin banyak ibu rumah tangga panik. Gaji terakhir udah lima tahun lalu, angkanya kecil, dan sekarang kebutuhan udah beda.
Jawaban gue: sebutkan angka terakhir kamu dengan jujur, tapi langsung sambung dengan ekspektasi kamu sekarang. Contoh: "Gaji terakhir saya waktu itu tiga juta, tapi itu lima tahun lalu. Untuk posisi ini, saya lihat kisaran pasarnya sekitar lima sampai enam juta, dan itu yang saya harapkan."
Kenapa harus langsung nyambung? Karena kalau kamu cuma bilang angka lama, HRD bakal pakai angka itu sebagai patokan. Kamu yang rugi.
Kalau kamu benar-benar nggak nyaman nyebut angka lama, boleh kok bilang: "Saya lebih nyaman membicarakan ekspektasi gaji untuk posisi ini, karena gaji terakhir saya sudah cukup lama." Ini jujur dan nggak bohong.
"Anak masih kecil, apa jangan kerja aja dulu?"
Ini bukan pertanyaan yang datang dari HRD. Ini pertanyaan yang datang dari tetangga, dari mertua, kadang dari suami sendiri. Dan yang paling parah, dari kepala kita sendiri jam dua pagi.
Gue nggak akan bilang "kerja itu wajib" atau "di rumah aja lebih mulia". Dua-duanya nggak benar buat semua orang. Yang gue tahu, keputusan ini harus diambil dengan hitungan, bukan dengan rasa bersalah.
Coba hitung tiga hal ini dulu:
- Biaya tersembunyi kerja. Transport, makan siang, susu atau biaya pengasuh, baju kerja. Kadang gaji empat juta tapi yang benar-benar masuk kantong cuma satu setengah juta. Hitung dulu sebelum semangat.
- Dukungan di rumah. Siapa yang jemput anak kalau kamu lembur? Siapa yang pegang anak kalau anak demam hari Senin? Kalau jawabannya "belum tahu", itu bukan alasan buat batal kerja, tapi harus diselesaikan dulu sebelum tanda tangan kontrak.
- Alasan kamu kerja. Kalau alasannya cuma "biar nggak dianggap cuma ibu rumah tangga", itu rapuh. Tapi kalau alasannya "aku butuh penghasilan sendiri" atau "aku butuh otakku dipakai buat hal lain", itu cukup kuat buat kamu bertahan di hari-hari berat.
Soal wawancara: jangan bilang "saya siap lembur kapan aja"
Ini kesalahan yang sering gue lihat. Ibu rumah tangga yang mau balik kerja biasanya terlalu semangat meyakinkan, sampai bilang hal-hal yang nggak realistis.
Kalau ditanya soal ketersediaan waktu, jawab dengan batasan yang jelas tapi tetap positif. "Saya bisa mulai kerja jam delapan dan biasanya bisa sampai jam lima. Kalau ada kebutuhan mendesak di luar itu, saya bisa atur asal ada kabar lebih dulu." HRD yang waras justru menghargai jawaban kayak gini, karena tandanya kamu tahu kapasitas diri sendiri.
Yang perlu kamu hindari cuma satu: bohong. Kalau kamu bilang siap lembur tiap hari lalu setelah tiga bulan sering izin pulang cepat, reputasi kamu yang hancur. Bukan cuma di perusahaan itu, tapi bisa kebawa ke mana-mana.
"Aku nggak punya pengalaman formal, CV-nya isi apa?"
Banyak ibu rumah tangga merasa CV-nya kosong. Padahal kalau digali, isinya banyak.
Kamu pernah ngurus keuangan rumah tangga dengan budget ketat? Itu skill budgeting. Kamu pernah jadi bendahara arisan atau kas RT? Itu pengalaman mengelola uang orang lain, dan itu nggak main-main. Kamu pernah bantu jualan online tetangga, ngurus pesanan, bales chat pembeli? Itu customer service dan penjualan.
Yang bikin CV kamu kelihatan kosong biasanya bukan karena nggak ada isinya, tapi karena kamu nulisnya dengan bahasa yang terlalu "rumah tangga". Ganti "mengurus anak" jadi "mengelola jadwal harian dan kebutuhan tiga anak". Ganti "bantu jualan tetangga" jadi "menangani pesanan dan komunikasi pelanggan untuk usaha kecil".
Bukan buat bohong. Cuma buat menyebut hal yang sama dengan bahasa yang dimengerti HRD.
Yang paling penting: mulai dari yang kecil
Gue ngerti banget rasanya pengin langsung dapat kerja bagus dengan gaji besar setelah bertahun-tahun di rumah. Tapi kalau itu yang jadi target pertama, kamu bakal cepat kecewa dan akhirnya berhenti nyari.
Mulai aja dari yang paling dekat. Kerja paruh waktu, kerja lepas, atau posisi yang mungkin "di bawah" pengalaman kamu dulu. Bukan karena kamu nggak pantas dapat yang lebih baik, tapi karena kamu butuh membangun lagi kepercayaan diri dan rekam jejak. Dua hal itu nggak bisa dibeli, harus dijalani.
Dan satu lagi yang sering lupa disebut: siapin mental buat ditolak. Bukan sekali dua kali. Bisa sepuluh kali. Itu normal, bukan tanda kamu nggak layak. Yang beda cuma, sekarang kamu punya alasan yang jelas kenapa kamu bertahan.
Kalau kamu baca sampai sini sambil masih pakai celemek, gue cuma mau bilang: pertanyaan-pertanyaan di kepala kamu itu wajar. Nggak ada yang salah dengan kamu yang masih ragu. Yang salah cuma kalau ragu itu dibiarkan jadi alasan buat nggak pernah mulai.