Gue masih inget banget momen pertama kali bikin CV. Rasanya kayak nulis surat cinta ke orang yang belum pernah ketemu. Deg-degan, tapi juga bingung: ini yang bener nggak sih cara nulisnya? Setelah beberapa tahun kerja dan sempat duduk di posisi yang ikut nyaring lamaran orang, baru deh gue sadar — banyak banget kesalahan pemula yang ternyata gampang dihindari asal tahu duluan.
Nah, buat kamu yang baru mau nyemplung ke dunia kerja, ini lima jebakan yang paling sering gue lihat. Bukan buat nakut-nakutin, tapi biar kamu nggak buang-buang waktu kayak gue dulu.
1. Kirim CV yang Sama ke Semua Perusahaan
Ini kesalahan paling klasik. Bikin satu CV, terus copy-paste ke mana-mana. Gue ngerti, rasanya capek kalau harus nulis ulang tiap kali. Tapi percaya deh, HRD itu jeli. Mereka bisa langsung lihat mana lamaran yang template dan mana yang beneran niat.
Baca juga: Berhenti Sebelum Terlambat: 6 Sinyal Awal Kerjaan yang Perlu Diwaspadai
Coba perhatiin lowongan yang kamu incar. Kalau mereka minta "mampu bekerja dengan tim" dan kamu pernah jadi ketua divisi di organisasi kampus, ya tonjolkan itu. Kalau posisinya butuh Excel, sebutin pengalamanmu pakai Excel. Sesimpel itu.
CV bukan dokumen sakral yang nggak boleh diubah. Anggap aja dia draft yang terus kamu perbaiki sesuai lawan bicara.
Gue pernah ngobrol sama seorang rekruter, dan dia bilang sekitar 70 persen lamaran yang masuk ke mejanya jelas-jelas dikirim massal. Nggak ada usaha nyocokin sama kualifikasi. Ya gimana mau dipanggil?
2. Nulis Pengalaman Kerja Kayak Daftar Tugas
Banyak pemula nulis CV-nya kayak deskripsi pekerjaan di iklan lowongan. "Bertanggung jawab atas administrasi." "Mengelola media sosial." Selesai. Masalahnya, semua orang bisa nulis begitu. Yang bikin kamu beda adalah hasilnya.
Contoh gampang: daripada nulis "mengelola Instagram organisasi", coba tulis "menaikkan jumlah followers Instagram dari 500 ke 2.000 dalam enam bulan". Jauh lebih menggigit, kan? Angka bikin ceritamu konkret. Kalau kamu nggak punya angka, ceritakan dampaknya — misalnya "sistem absensi yang aku bikin memangkas waktu rekap dari dua jam jadi setengah jam".
Ini bukan soal pamer. Ini soal bantu orang lain ngerti nilai kamu tanpa harus nebak-nebak.
3. Datang Wawancara Tanpa Riset
Kenapa ini fatal?
Karena pertanyaan "kamu tahu nggak perusahaan kami bergerak di bidang apa?" itu bukan basa-basi. Pewawancara lagi ngecek: orang ini serius nggak sih, atau cuma sebar lamaran ke mana aja?
Riset nggak harus berjam-jam. Cukup 15-20 menit buka situs resmi mereka, lihat produk atau layanannya, cek berita terbaru tentang mereka, dan baca halaman "tentang kami". Kadang cukup segitu buat bikin kamu kelihatan jauh lebih siap dibanding kandidat lain.
Gue dulu pernah hampir gagal di wawancara pertama gara-gara ini. Ditanya soal visi perusahaan, gue cuma bisa senyum kecut. Nyesek banget. Sejak itu, gue selalu sempetin riset minimal sehari sebelum wawancara, sekecil apa pun perusahaannya.
Pertanyaan yang jangan kamu lupakan
Di akhir wawancara, biasanya kamu dikasih kesempatan bertanya. Jangan jawab "nggak ada, terima kasih". Itu kesempatan emas yang kamu buang. Tanyakan sesuatu yang menunjukkan kamu berpikir, misalnya "seperti apa tantangan terbesar tim ini dalam enam bulan ke depan?" atau "bagaimana cara perusahaan mengukur keberhasilan posisi ini?"
4. Nego Gaji Tanpa Data
Nego gaji itu boleh, bahkan dianjurkan. Tapi jangan asal sebut angka karena feeling doang. Kalau kamu minta angka yang jauh di atas pasar tanpa alasan jelas, pewawancara bisa langsung ilang respect. Sebaliknya, kalau kamu menerima angka pertama tanpa tanya apa-apa, kamu bisa jadi orang paling murah di kantor itu.
Solusinya? Cari tahu kisaran gaji untuk posisi serupa di kotamu. Tanya teman yang udah kerja di bidang itu, cek situs lowongan, atau gabung komunitas profesional. Bawa datanya ke meja wawancara. Jadi waktu kamu bilang "berdasarkan riset saya, kisaran untuk posisi ini ada di angka sekian", itu terdengar masuk akal, bukan sekadar nekat.
Dan satu hal yang sering dilupakan pemula: gaji bukan cuma angka di slip. Tanya juga soal tunjangan, jam kerja, sistem lembur, dan jenjang karier. Kadang paket keseluruhannya lebih penting daripada nominalnya.
5. Menganggap Penolakan sebagai Vonis
Ini yang paling berat secara mental, terutama buat yang baru pertama kali cari kerja. Ditolak sekali, dua kali, sepuluh kali — terus merasa diri nggak berguna. Gue pernah di posisi itu. Ngerasa kayak semua pintu tertutup dan yang salah adalah diri sendiri.
Padahal, keputusan rekrutmen itu dipengaruhi banyak hal yang di luar kendali kamu. Kadang mereka udah punya kandidat internal. Kadang anggarannya tiba-tiba dipotong. Kadang kamu cuma kurang cocok dengan budaya tim, bukan karena kamu nggak kompeten.
Yang penting adalah cara kamu merespons. Minta feedback kalau memungkinkan — banyak rekruter baik hati yang mau kasih masukan. Lalu evaluasi: apakah ada yang bisa diperbaiki dari CV atau cara menjawabmu? Kalau iya, perbaiki. Kalau nggak, ya lanjut kirim lamaran berikutnya.
Anggap aja proses cari kerja ini kayak latihan lari maraton. Bukan sprint. Yang menang bukan yang paling cepat di awal, tapi yang paling konsisten dan nggak berhenti di tengah jalan.
Intinya, jadi pemula itu bukan aib. Semua orang pernah di titik nol. Yang bikin beda adalah apakah kamu mau belajar dari kesalahan kecil yang sebenarnya gampang dihindari. Mulai dari CV yang disesuaikan, cerita pengalaman yang konkret, riset sebelum wawancara, nego gaji pakai data, sampai mental yang nggak gampang goyah. Lakuin satu-satu, nggak perlu sempurna sekaligus.
Kalau kamu lagi di tengah proses ini, semangat ya. Pelan-pelan aja, yang penting jalan terus.