Gue bukan tipe yang gampang percaya sama tren "pulang on time bikin hidup lebih bahagia". Dulu, tiap denger kalimat itu, reaksi gue cuma satu: ketawa sinis. Gimana nggak, di kantor lama gue, jam 6 sore itu masih jam sibuk. Meeting belum kelar, grup WhatsApp masih rame, dan atasan masih mondar-mandir sambil bawa laptop.
Tapi sebulan lalu, gue mutusin satu hal yang agak nekat. Gue coba pulang cepat. Bukan pulang ngebut biar bisa rebahan, tapi pulang tepat waktu biar bisa ketemu anak sebelum dia tidur. Percobaan ini awalnya cuma buat gue sendiri. Eh, ternyata efeknya nyasar ke mana-mana, termasuk ke cara gue lihat karier dan wawancara kerja.
Baca juga: 4 Mitos Karier yang Sering Ditelan Mentah oleh Orang Tua Baru
Hari Pertama Itu Rasanya Aneh Banget
Gue masih inget hari pertama. Jam 17.30, gue udah beresin tas. Tangan gue keringetan. Bukan karena capek, tapi karena takut dibilang "kurang komitmen". Di kepala gue udah muter seribu skenario: atasan ngeliat gue sinis, temen ngomongin di belakang, atau nilai performa gue turun.
Nyatanya? Nggak ada yang terjadi. Atasan gue cuma bilang, "Oh, udah mau pulang? Oke." Temen sebelah gue malah nanya, "Eh, lu sakit?" Itu doang. Gue ketawa sendiri di lift.
Yang paling kerasa justru pas gue nyampe rumah. Anak gue, yang biasanya udah ngantuk dan rewel, masih segar. Dia lari ke pintu, peluk gue, terus nanya, "Ayah, main puzzle yuk?" Gue hampir nangis. Sebulan sebelumnya, momen kayak gini cuma kejadian akhir pekan. Itu pun kalau gue nggak keburu capek.
Yang Berubah di Karier, Nggak Cuma di Rumah
Ini bagian yang bikin gue kaget. Biasanya, kalau gue pulang cepat, gue mikir kerjaan bakal numpuk. Ternyata yang numpuk itu bukan kerjaan, tapi kebiasaan buruk gue sendiri: ngobrol nggak penting, buka sosmed sambil nunggu "mood", dan meeting yang sebenernya bisa jadi chat.
Karena gue punya deadline pribadi jam 17.00, gue jadi lebih galak sama diri sendiri. Prioritas jadi jelas. Mana yang harus selesai hari ini, mana yang bisa besok. Dalam seminggu, gue sadar gue ngerjain hal yang sama banyaknya, tapi dengan waktu yang lebih pendek. Fokus gue naik, bukan turun.
Pulang cepat bukan berarti malas. Justru itu latihan disiplin paling jujur, karena kamu nggak bisa lagi pura-pura sibuk.
Yang juga berubah: cara gue ngomong di kantor. Dulu gue sering ngorbanin waktu istirahat buat ngerjain hal kecil. Sekarang gue berani bilang, "Ini bisa gue kerjain besok pagi, ya." Awalnya takut dianggap nggak kooperatif. Ternyata orang malah lebih respect karena gue jelas.
Efek ke Cara Gue Lihat Wawancara Kerja
Sebulan ini juga bikin gue mikir ulang soal wawancara kerja. Dulu, tiap ditanya "Kenapa kamu tertarik kerja di sini?", gue jawab dengan template: ingin berkembang, ingin berkontribusi, bla bla bla. Sekarang gue bakal jawab lebih jujur. Gue pengen kerja di tempat yang ngerti bahwa gue punya anak kecil di rumah.
Bukan berarti gue minta fasilitas macam-macam. Tapi gue sadar, nilai hidup gue udah berubah. Gue nggak mau lagi masuk ke perusahaan yang bangga sama budaya "lembur itu loyalitas". Karena gue udah ngerasain sendiri: lembur yang nggak perlu itu bukan loyalitas, itu cuma manajemen waktu yang buruk.
Kalau nanti gue wawancara lagi, gue bakal nanya balik ke HRD. "Jam pulang normal di sini jam berapa?" atau "Bagaimana tim ini ngatur deadline yang realistis?" Pertanyaan kayak gini dulu kedengeran sok idealis. Sekarang gue anggap itu wajib. Karena wawancara kerja bukan cuma mereka nilai gue, gue juga nilai mereka.
Yang Nggak Gampang dari Percobaan Ini
Gue nggak mau bohong. Ada hari-hari di mana gue gagal. Ada meeting yang molor sampai jam 6, dan gue harus ikut karena penting. Ada juga rasa bersalah yang muncul tiba-tiba, kayak gue nggak pantas pulang sebelum bos pulang.
Rasa bersalah itu yang paling susah dilawan. Bukan karena orang lain, tapi karena gue udah bertahun-tahun dicuci otak sama budaya kerja yang ngukur orang dari jam duduk, bukan dari hasil. Butuh waktu buat ngelepasin itu.
Istri gue juga ngerasain efeknya. Dia bilang, gue jadi lebih sabar. Nggak gampang emosi kalau anak rewel. Mungkin karena gue nggak lagi dateng ke rumah dengan kepala penuh kerjaan yang belum kelar. Energi gue masih ada sisa buat ngobrol, buat bercanda, buat dengerin cerita dia soal hari yang melelahkan.
Kalau Kamu Mau Coba, Mulai dari Hal Kecil
Gue nggak nyuruh kamu langsung nekat pulang jam 5 tiap hari. Bisa kena semprot. Coba dulu satu atau dua hari seminggu. Pilih hari yang paling memungkinkan. Siapin kerjaan biar beres sebelum jam pulang. Matiin notifikasi yang nggak penting.
- Tentukan jam "stop" pribadi, misalnya 16.45 kamu udah beresin semua.
- Komunikasikan ke tim, bukan kabur diam-diam.
- Fokus ke hasil, bukan ke berapa lama kamu duduk di kursi.
- Jangan bandingin diri kamu sama orang yang hidupnya beda. Kamu punya keluarga kecil yang nunggu di rumah.
Buat gue, sebulan ini bukan soal pulang cepat doang. Ini soal ngambil balik kendali atas waktu. Karier tetap penting, tapi bukan satu-satunya hal yang bikin hidup gue berarti. Anak gue nggak bakal inget berapa meeting yang gue hadirin. Dia cuma bakal inget siapa yang main puzzle sama dia sebelum tidur.
Kalau kamu punya keluarga kecil di kota besar, coba deh. Nggak perlu nunggu resign atau pindah kerja. Mulai dari satu hari. Siapa tau, sebulan lagi, kamu ngerasain hal yang sama kayak gue.
===AKHIR===