Gue punya warung kopi kecil di pinggiran kota. Karyawan cuma empat orang, tapi rasa pusingnya kadang kayak punya perusahaan seratus orang. Bulan lalu gue mutusin satu hal: berhenti ngatur karyawan pakai feeling, mulai pakai cara yang lebih terstruktur. Bukan teori dari buku mahal, sih. Cuma beberapa perubahan kecil yang gue paksa diri gue jalanin selama sebulan penuh.
Hasilnya? Ada yang berubah drastis, ada juga yang bikin gue sadar kalau masalahnya bukan di karyawan, tapi di gue sendiri. Ini ceritanya.
Berhenti Mewawancarai Calon Karyawan Sambil Lalu Lalang
Dulu, kalau ada yang datang ngelamar, gue biasanya cuma ngobrol lima menit di meja kasir sambil sesekali ngelayanin pelanggan. Ujung-ujungnya gue rekrut orang yang feeling gue bilang oke, lalu dua minggu kemudian gue nyesel karena dia nggak cocok.
Baca juga: Pulang Kerja Naik Angkot, Ini yang Jarang Dibahas soal Karier
Sebulan terakhir gue ubah total. Wawancara sekarang gue lakuin setelah warung tutup, duduk beneran, dan gue siapin tiga pertanyaan sederhana. Bukan pertanyaan macam-macam soal visi misi, tapi soal hal konkret: gimana dia nanganin pelanggan yang komplain, kenapa dia milih kerja di tempat kecil, dan apa yang dia lakuin kalau lagi nggak ada kerjaan.
"Pertanyaan simpel justru bikin jawaban jujur keluar. Calon karyawan yang bagus biasanya nggak perlu mikir lama buat jawab hal-hal mendasar."
Perubahan yang gue rasain paling kentara: gue jadi lebih jarang salah rekrut. Dari dua orang yang gue terima bulan ini, dua-duanya masih bertahan dan nggak ada drama. Padahal sebelumnya, rata-rata satu dari tiga karyawan baru keluar sebelum sebulan.
Bikin "Aturan Main" yang Bisa Dibaca, Bukan Cuma Diinget
Ini yang paling ribet tapi paling ngebantu. Selama ini, semua aturan di warung cuma ada di kepala gue. Jam masuk, cara bagi tips, kapan boleh ambil cuti, semuanya gue sampaikan lisan sekali di awal, lalu gue harap semua orang inget.
Ternyata nggak gitu cara kerja manusia. Orang lupa. Dan ketika mereka lupa, gue kesel, padahal salah gue juga karena nggak pernah nulis apa-apa.
Jadi sebulan lalu gue bikin dokumen satu halaman. Bahasa santai, nggak pakai istilah keren. Isinya cuma:
- Jam buka dan jam wajib datang (dan toleransi telat 10 menit)
- Cara bagi tips harian
- Aturan tukar shift, minimal sehari sebelumnya
- Apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan saat sepi pelanggan
- Kapan gue bisa dihubungi kalau ada masalah
Gue cetak, gue tempel di belakang kasir, dan gue kasih salinan ke tiap karyawan. Sebulan kemudian, keluhan soal "nggak tau aturannya" hampir hilang total. Gue juga jadi lebih tenang karena kalau ada yang salah, gue bisa nunjuk dokumen itu tanpa harus marah-marah.
Satu Hal yang Nggak Gue Duga
Karyawan gue justru merasa lebih dihargai setelah aturan ditulis. Salah satu dari mereka bilang, "Enak sekarang, Mas, jadi nggak kayak main tebak-tebakan." Gue baru sadar, selama ini mereka kerja sambil nebak-nebak apa yang ada di kepala gue. Itu melelahkan buat mereka, bukan cuma buat gue.
Rapat 15 Menit Tiap Senin yang Nggak Bikin Ngantuk
Gue bukan tipe orang yang suka rapat. Tapi sebulan ini gue coba satu kebiasaan baru: ngobrol bareng semua karyawan tiap Senin pagi, sebelum warung buka, maksimal 15 menit.
Agendanya cuma tiga: apa yang lancar minggu lalu, apa yang macet, dan apa yang mau kita coba minggu ini. Nggak ada yang namanya laporan formal atau presentasi. Semua duduk, ngopi, ngomong.
Awalnya canggung. Karyawan gue kebanyakan diam, nunggu gue ngomong. Tapi masuk minggu ketiga, mereka mulai buka suara. Ada yang ngusulin cara baru nata antrean, ada yang ngeluh soal satu pelanggan yang sering bikin ribut. Hal-hal kecil yang dulu nggak pernah gue denger karena nggak pernah ada waktunya buat dengerin.
Efeknya ke gue pribadi juga besar. Gue jadi nggak perlu ngecek semuanya sendiri. Beberapa masalah justru selesai sebelum gue tau ada masalah.
Yang Masih Susah Sampai Sekarang
Biar jujur, nggak semua berubah mulus. Gue masih kesulitan ngasih feedback ke karyawan yang performanya menurun tanpa bikin suasana jadi dingin. Sebulan ini gue coba pendekatan "ngomong empat mata setelah tutup", dan hasilnya campur aduk. Ada yang langsung ngerti, ada yang malah jadi murung dua hari.
Gue juga masih suka ikut campur terlalu banyak. Kadang gue lupa, aturan yang udah gue tulis itu harus gue patuhi juga, bukan cuma karyawan. Beberapa kali gue ngelanggar aturan gue sendiri dan itu bikin posisi gue sebagai pemilik jadi agak canggung di mata mereka.
Tapi ya, namanya juga usaha kecil. Nggak ada yang instan. Yang penting, sebulan ini gue akhirnya punya sistem, bukan cuma perasaan. Dan buat pemilik usaha kecil seperti gue, itu udah kemajuan yang lumayan banget.
Kalau kamu juga punya usaha kecil dan selama ini ngatur karyawan pakai feeling kayak gue dulu, coba deh satu bulan aja jalanin tiga hal tadi: wawancara yang beneran, aturan yang ditulis, dan obrolan rutin 15 menit. Nggak perlu mahal, nggak perlu ribet. Yang berubah mungkin nggak langsung kelihatan, tapi lama-lama kerasa.