Beberapa bulan lalu gue duduk di ruang meeting sebuah kantor di lantai 12. Di depanku, seorang HRD perempuan yang senyumnya ramah tapi pertanyaannya tajam. Di sebelahku, segelas air mineral yang belum gue sentuh karena tangan gue agak dingin. Bukan karena AC-nya kencang, tapi karena pertanyaan yang baru saja keluar: "Ekspektasi gaji Anda berapa?"
Gue ingat betul momen itu. Di kepala gue, langsung muncul angka-angka: cicilan motor, uang sewa apartemen kecil di pinggiran kota, susu anak, dan tagihan listrik yang naik terus tiap bulan. Ini bukan soal gue pengin gaya-gayaan. Ini soal dapur di rumah yang harus tetap ngebul.
Baca juga: Pemilik Usaha Kecil: Rencana 7 Hari Biar Nggak Salah Rekrut Karyawan
Dan mungkin kamu pernah ada di posisi yang sama. Duduk di kursi wawancara, tapi otak sibuk menghitung kebutuhan rumah tangga. Tenang, kamu nggak sendirian.
Kenapa Nego Gaji Terasa Jauh Lebih Susah Kalau Sudah Punya Anak
Waktu masih single, nego gaji tuh rasanya kayak main gim. Kalau kalah, ya udah, cari yang lain. Tapi begitu punya anak dan pasangan yang ikut nanggung biaya hidup di kota besar, taruhannya berubah total. Kamu bukan cuma mikirin diri sendiri.
Gue pernah ngobrol sama teman yang kerja di HRD sebuah perusahaan swasta. Katanya, banyak kandidat yang sebenarnya kompeten, tapi tiba-tiba jadi ragu pas masuk pembahasan gaji. Mereka takut dibilang terlalu banyak minta, takut dianggap nggak bersyukur, atau takut posisinya direbut kandidat lain. Padahal, kata dia, kandidat yang bisa ngobrol soal angka dengan tenang justru lebih dihargai.
Ini yang sering lupa kita sadari: wawancara kerja itu bukan ajang minta belas kasihan. Ini percakapan dua pihak yang sama-sama butuh. Kamu butuh kerjaan, perusahaan butuh orang yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Titik.
Nego gaji bukan soal kamu serakah. Ini soal kamu tahu nilai dirimu dan tahu kebutuhan rumahmu.
Hal-Hal yang Gue Pelajari Setelah Beberapa Kali "Gagal" Nego
Gue nggak selalu menang, kok. Ada kalanya gue nyebut angka, HRD-nya cuma senyum tipis lalu bilang, "Kami cek dulu ya." Dan ujung-ujungnya nggak ada kabar. Tapi dari beberapa kali percobaan itu, ada pola yang akhirnya gue ngerti.
1. Riset angka itu wajib, bukan opsional
Jangan pernah masuk wawancara tanpa tahu kisaran gaji untuk posisi itu di kota kamu. Cek dari teman, dari lowongan sejenis, dari grup alumni, atau dari forum kerja. Kalau kamu tahu pasar bilang 8-10 juta, jangan nyebut 6 juta cuma karena takut ditolak. Sebaliknya, jangan juga nyebut 15 juta tanpa alasan jelas.
Yang sering gue lakukan sekarang: bikin rentang. Misalnya, "Untuk posisi ini, ekspektasi saya di kisaran 9 sampai 11 juta, tergantung total paket benefitnya." Kalimat ini memberi ruang negosiasi tanpa terdengar kaku.
2. Jangan buka angka duluan kalau bisa dihindari
Kalau HRD tanya ekspektasi gaji di awal wawancara, kamu boleh balik bertanya dengan sopan. Sesuatu kayak, "Boleh tahu dulu range anggaran untuk posisi ini?" Ini bukan sombong, ini cuma memastikan kalian nggak buang waktu di angka yang jauh berbeda. Kalau mereka tetap minta angka dulu, baru kasih rentang yang sudah kamu siapkan.
3. Hitung total paket, bukan cuma gaji pokok
Ini yang sering kelewat, terutama buat kita yang punya keluarga kecil. Tunjangan kesehatan yang mencakup anak dan pasangan itu nilainya besar, lho. Belum lagi uang transport, tunjangan makan, atau fleksibilitas kerja. Kadang gaji pokok terlihat kecil, tapi setelah dihitung totalnya, ternyata lebih untung dibanding tawaran lain yang pokoknya lebih tinggi tapi tanpa benefit.
Gue pernah hampir salah pilih karena cuma melihat angka pokok. Untung sempat ngobrol sama pasangan dan kami hitung bareng di meja makan. Kadang keputusan besar memang lebih enak dibahas sambil makan malam sederhana di rumah.
Yang Sering Bikin Kita Kehilangan Kesempatan
Ada satu kebiasaan yang gue sesali: terlalu cepat bilang "iya" karena takut kehilangan kesempatan. Waktu itu gue langsung setuju dengan tawaran pertama tanpa nanya apa-apa. Beberapa bulan kemudian, gue tahu rekan kerja baru dengan pengalaman setara dapat angka yang lebih tinggi. Sakit, tapi jadi pelajaran.
Selain itu, hindari dua hal ini saat wawancara:
- Membawa urusan pribadi ke meja nego. Cerita soal cicilan atau kebutuhan anak boleh jadi alasan buat kamu sendiri, tapi jangan dijadikan senjata utama di depan HRD. Fokus ke nilai dan kontribusi kamu.
- Nego di waktu yang salah. Jangan bahas gaji di menit-menit awal wawancara sebelum mereka tahu kualitas kamu. Tunjukkan dulu kemampuanmu, baru bicara angka di akhir.
Dan satu lagi: kalau tawaran yang masuk jauh di bawah ekspektasi, kamu berhak minta waktu untuk mempertimbangkan. Nggak harus langsung jawab di tempat. Bilang saja, "Boleh saya diskusikan dulu dengan keluarga dan kabari besok?" Itu wajar banget, apalagi buat kamu yang punya tanggungan.
Buat yang Sedang Cari Kerja Sambil Urus Rumah
Gue tahu rasanya wawancara pagi-pagi, lalu buru-buru pulang karena harus jemput anak atau masak. Kadang persiapan wawancara pun cuma sempat dilakukan sambil nyetrika atau sambil nungguin anak tidur siang. Nggak apa-apa. Yang penting kamu tahu angka yang kamu perjuangkan dan alasan di baliknya.
Wawancara kerja itu mirip kayak ngobrol serius sama calon mertua. Kamu pengin tampil baik, tapi juga nggak mau bohong soal diri sendiri. Kalau kamu tenang, jujur soal kemampuan, dan tahu nilai dirimu, percakapan soal gaji akan terasa lebih ringan.
Dan kalau hari ini kamu masih deg-degan sebelum wawancara, itu normal. Gue juga masih deg-degan sampai sekarang. Bedanya, sekarang gue bawa catatan kecil di HP berisi rentang gaji dan tiga pencapaian kerja yang paling gue banggakan. Simpel, tapi bikin gue nggak blank saat ditanya angka.
Kamu juga bisa mulai lakukan hal yang sama malam ini, sambil duduk di sofa setelah anak-anak tidur. Tulis angka, tulis alasan, tarik napas. Besok, hadapi wawancara itu dengan kepala lebih tegak. Keluarga kecilmu di rumah pantas mendapatkan versi terbaik dari perjuanganmu.
===